Pengasuh Pondok Pesantren di Jember Pimpin GPK Jawa Timur

Pengasuh Pondok Pesantren di Jember Pimpin GPK Jawa Timur

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Khozini, Kaliwates, Jember, Muhammad Khozin atau Ra Khozin terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Jawa Timur.

Ra Khozin terpilih melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) Gerakan Pemuda Ka’bah Jawa Timur, di Surabaya selama dua hari, Sabtu-Minggu 12-13 September 2020.

“Ini sistemnya formatur, dipilih berdasarkan representasi teman-teman di 38 kabupaten dan kota, pimpinan pusat, demisioner, dikaitkan dalam satu kepentingan untuk tujuan organisasi,” ujar Ketua Umum GPK, Andi Wijaya Ghalib, Minggu (13/9/2020).

Andi menambahkan, ketua terpilih GPK Jatim diharapkan bergerak menggaet generasi muda untuk masuk ke GPK.

“Infrastruktur masih dibenahi. Gerbong ini diharapkan mampu mengajak generasi muda masuk ke Gerakan Pemuda Ka’bah. InsyaAllah outputnya menjaring mereka masuk di partai politik (PPP),” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PW GPK Jatim yang terpilih dari hasil muswil ke I ini Muhammad Khozin akan segera melakukan konsolidasi internal.

“Pertama tentu akan melakukan penataan organisasi internal mulau dari dalam dulu. Setelah muswil dalam waktu dekat akan menggelar muscab serentak di 38 kabupaten danbkota, terus ke bawah di tingkat musancab (musyawarah anak cabang),” tambahnya.

Kemudian akan melakukan rapat koordinasi wilayah (rakorwil) yang pertama GPK Jatim.

“Rakorwil pertama sebagai forum untu melegalkan segenap program-program prioritas yang disepakati agar kita punya legal formal yang kuat,” tandasnya.

Kaukus Muda PPP Gandeng Millenial Agar Tidak Apatis Terhadap Parpol

Kaukus Muda PPP Gandeng Millenial Agar Tidak Apatis Terhadap Parpol

Kaukus Muda PPP Surabaya menggandeng kalangan Mahasiswa, anak jalanan, dan pemuda putus sekolah untuk tidak apatis terhadap partai politik. Sebab, masih banyak kalangan millenial yang apatis terhadap partai politik, mengingat Pilwali Surabaya sebentar lagi akan digelar.

“PPP membentuk wadah khusus yang dinamakan Kaukus Muda PPP, tujuannya mengajak kalangan millenial tidak apatis terhadap parpol,” ujar Koordinator Kaukus Muda PPP Surabaya, Achmad Syaiful Bahri, Minggu, (13/9/ 2020).

Syaiful menilai, masih banyak kalangan millenial yang apatis terhadap perkembangan politik di Indonesia, khususnya Surabaya. Salah satu faktornya, mereka masih menganggap politik itu jahat, kotor dan sebagainya.

 “Makanya kita mencoba ingin mengajak kalangan millenial agar tidak apatis terhadap parpol. Kami ingin agar kalangan pemuda di Surabaya bisa berfikir kritis demi kemajuan Surabaya. Apalagi, saat ini memasuki pilwali,” jelasnya.

Sikap millenial, lanjutnya, akan menentukan nasib kota Surabaya lima tahun kedepan pasca terpilihanya calon Wali kota dan Wakil Wali Kota Surabaya. Sehingga diperlukan pendidikan politik untuk kalangan millenial.

“Semua kita rangkul. Mulai dari mahasiswa, anak jalanan, hingga pemuda putus sekolah. Alhamdulillah setelah kita beri materi tentang kepemimpinan, agama dan pendidikan politik, saya rasa mereka lebih baik,” tegasnya.

Di PPP sendiri, ada beberapa Badan Otonom seperti Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), Wanita Persatuan Pembangunan (WPP) dan Gerakan Muda Pembangunan Indonesia. Nah, keberadaan Kaukus Muda PPP juga akan tetap melakukan pendampingan dan kaderisasi demi kemajuan bersama.

“Paling tidak kita memberikan kaderisasi terhadpa mereka. Entah nanti berafikiasi ke banom yang mana. Sampai saat ini, dimasing-masing kecamatan sudah ada,” tambahnya.

 Selain itu, Kaukus Muda PPP juga akan mengawal pemenangan calon Machfud Arifin – Mujiaman sebagai Wali Kota dan wakil Wali Kota Surabaya untuk lima tahun kedepan. Dengan harapan, paslon tersebut mampu mengubah Surabaya menjadi lebih baik lagi.

GPK Jawa Timur Gelar Muswil, Kader Diminta Fokus Pembenahan Organisasi

GPK Jawa Timur Gelar Muswil, Kader Diminta Fokus Pembenahan Organisasi

Seluruh kader Gerakan Pemuda Kabah (GPK) Jawa Timur (Jatim) diminta untuk fokus pembenahan organisasi. Tak perlu tergesa-gesa mendukung calon kepala daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020.

“Rapikan dulu organisasi. Jangan sebentar-sebentar mendampingi calon kepala daerah,” kata Ketua umum GPK Pusat, Andi Surya Wijaya Ghalib pada acara pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) GBK Jawa Timur (Jatim) 2020 di Surabaya, Sabtu (12/9/2020).

Menurutnya, bukan berarti pilkada itu tidak penting. Pilkada tetap penting. Tapi, semua itu ada fasenya. Sudah ada yang mengurus, yakni partai.

“Jadi, perlu saya tekankan kepada teman-teman yang ada di PC agar jangan terlalu jauh berpikir dulu. Belajar coba berpikir secara sistematis dan hirarkis,” ujarnya.

Dia mengibaratkan, sekarang ini, kita (GPK) masih belajar pakai celana, jalan, baju dan sebagainya. Pasca Muswil, ada beberapa agenda penting yang harus dilaksanakan. Yakni, mengadakan Musyawarah Cabang (Muscab). Setelah itu nanti ada musyawarah anak cabang.

“Nah, kita sebagai anak harus belajar merapikan organisasi sampai ke tingkatan terbawah. Seperti yang disampaikan ketua umum GPK Jatim, Jatim harus menjadi pilot project kelengkapan organisasi GPK dari struktur PW sampai desa,” paparnya.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) GPK Jatim, Norman Zein Nahdi bersyukur GPK dibawah kepemimpinannya sudah terbentuk 38 Pengurus Cabang (PC) se Jatim. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi.

“Usia saya susah 52 tahun. Sudah bukan milenial lagi. Tapi, alhamdulillah hari ini sudah terbentuk 38 PC GPK. Demi terbentuk seluruh PC, saya rela berdiri,” ujarnya.

Dia mengungkapkan penurunan suara PPP pada Pemilu 2019, salah satunya karena kurang berperannya GPK di seluruh desa. Tidak ada perintah. Tidak pernah GPK yang menjadi ormas pemuda underbouw PPP se Jatim dikumpulkan untuk memenangkan pemilu 2019.

Namun, hal itu tidak menyurutkan GPK berjuang. “Jadi, penurunan itu karena kurangnya membuka ruang kepada kaum muda partai. Sudah hampir sepuluh tahun lebih GPK tidak disapa. Di setiap acara DPP PPP, tidak pernah bicara GPK,” ungkapnya.

Kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia

17 Agustus menjadi tanggal bersejarah bagi Indonesia. Pada tanggal ini diproklamirkan kemerdekaan dari belenggu penjajahan oleh Soekarno dan Moh. Hatta yang kemudian keduanya dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Akan tetapi, ada peristiawa lain yang juga terjadi pada tanggal 17 Agustus, tidak kalah bersejarahnya. Yaitu kembalinya Republik Indonesia menjadi NKRI dari sebelumnya berbentuk Negara Serikat.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda berusaha untuk kembali menjajah. Dengan beberapa aksi militer yang mendapat kecaman dari dunia internasional. Akhirnya Belanda mengadakan perundingan dengan Indonesia. Mulai dari Perundingan Linggarjati, Renville hingga Roem Royen. Akhirnya disepakati untuk diadakan perjanjian damai penyerahan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di kota Den Haag, Belanda.

Dari hasil konferensi inilah Indonesia berbentuk Indonesia Serikat terdiri dari 16 negara bagian dan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.

Di akhir tahun 1949 banyak tuntutan untuk pembubaran RIS (Republik Indonesia Serikat) karena RIS sebagai wujud  kepentingan Belanda yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya di Indonesia.

Setelah dilakukan beberapa perundingan unsur-unsur negara RIS dan RI, maka pada tanggal 15 Agustus 1950 Presiden Soekarno membacakan Piagam terbentuknya NKRI yang berlaku mulai 17 Agustus 1950.

Dengan demikian, sejak 17 Agustus 1950 negara RIS secara resmi dibubarkan dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

PPP Jatim Dorong Kader Wanita untuk Berani Berpolitik

PPP Jatim Dorong Kader Wanita untuk Berani Berpolitik

Wanita Persatuan Pembangunan (WPP) Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Hotel Narita, Surabaya, 29-30 November 2019.

Rakorwil dari sayap Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mengambil tema Potensi dan Peran Perempuan di Tengah Revolusi Industri 4.0.

Ketua WPP Jatim, Hj. Hamidah dalam sambutannya, rakorwil ini diadakan sebagai ajang koordinasi anggota WPP di Jatim, untuk lebih berani tampil di panggung politik.

“Kita lihat saat ini, Jatim dipimpin seorang wanita, Jombang juga. Terkhusus keduanya adalah kader Nahdliyin,” ucap Hamidah dalam sambutannya.

Sementara, Ketua DPW PPP Jatim, Musyaffa’ Noer, mendorong kader WPP Jatim untuk berani tampil di panggung politik. Apalagi di era 4.0, peran wanita semakin dibutuhkan masyarakat.

“Saya mendorong kader WPP untuk berani show up, apalagi di dalam pemilu sudah ada kewajiban untuk suatu partai mencalonkan minimal 30 persen kader wanita. Harapan kita semakin banyak kader PPP yang berhasil, terutama dalam pileg mendatang,” ucap Musyaffa’.

Sementara, Wakil Sekretaris WPP Jatim, Lia Istifhama saat memberi sambutan mengajak para perempuan tidak hanya kader WPP untuk berani bicara melawan diskriminasi.

“Kita fair ya, perempuan kalau dalam politik kadang menjadi sasaran sikap-sikap pelecehan yang merendahkan martabat wanita. Nah, kadang hal ini tidak mudah diatasi karena ketika perempuan mengambil tindakan melawan itu, dia disebut sensitif lah, baper lah. Padahal tidak boleh seperti itu. Jadi kami sebagai WPP Jatim ingin kaum perempuan berani,” ucap Lia, yang juga merangkap sebagai ketua panitia rakorwil WPP Jatim

“Ayo, tunjukkan bahwa perempuan tidak bisa direndahkan diremehkan begitu saja. Perempuan itu makhluk kuat dan memiliki kapasitas sama dengan yang lain. Inilah namanya kesetaraan gender. Dan kami di WPP siap menjadi partner jika ada kawan-kawan aktivis maupun politikus perempuan yang mengalami kejadian tidak nyaman, dilecehkan baik fisik maupun psikis, kami ingin memberikan support sebagai sesama kaum perempuan”, pungkas Lia.

Sumber; Ngopibareng